Apa Kata Tetangga? Seriuss ?!!
Eps.03
Namanya juga tetangga. mereka bagaikan camera CCTV 24 jam bagimu!
Teng . . . .Teng . . . .Teng . .
Erika mulai masuk di sekolah dasar kelas 1. Dia bersama dengan teman-temannya menikmati sekolah dasar dengan penuh semangat. Sayang, seribu sayang, Erika harus berpindah sekolah. Sekolah Dasar yang ia tempati ternyata memiliki murid tidak lebih dari 7 orang dan mereka lagi-lagi teman Erika di Taman Kanak-Kanak.
Teng . . . .Teng . . . .Teng . .
Erika mulai masuk di sekolah dasar kelas 1. Dia bersama dengan teman-temannya menikmati sekolah dasar dengan penuh semangat. Sayang, seribu sayang, Erika harus berpindah sekolah. Sekolah Dasar yang ia tempati ternyata memiliki murid tidak lebih dari 7 orang dan mereka lagi-lagi teman Erika di Taman Kanak-Kanak.
Kehidupan Erika di Sekolah Dasar tidak cukup banyak berkesan, karena kesehariannya hanyalah bermain dan mendengarkan ayahnya yang selalu mengajarinya dengan baik. Satu hal yang ia ingat adalah kaki cantiknya mengeluarkan darah ketika belajar dimulai.
Yaa, ayahnya memukul kakinya dengan sapu lidi jika ia tidak mendengarkan.
Setelah beranjak dewasa, Erika sadar bahwa sapu lidi itu cukup membuatnya menjadi sosok yang keras, penuntut, dan keras kepala.
Tahun 2003, masa baru dalam kehidupan Erika.
Erika meninggalkan masa Sekolah Dasar dan sekarang ia harus bertemu dengan teman baru di Sekolah Menengah Pertama.
Ayah dan Ibu Erika memilih memasukan Erika ke sekolah negeri yang dekat dengan rumahnya agar Erika tetap terkontrol dengan baik.
"Hai, Aku Gaga. Kamu Erika kan?" sapa seorang anak laki-laki yang wajahnya tak asing bagi Erika.
"Iya, aku Erika. Kamu siapa?" Jawab Erika sambil bergumam dalam hati mencoba mengingat wajah anak laki-laki itu.
Mereka berjanji akan bertemu sepulang sekolah. Sambil berpisah, Erika mencoba mengingat anak laki-laki yang menyapanya. Semakin dia memutar otaknya, semakin tak nampak wajah anak laki-laki itu.
Jam 1 siang, Erika keluar dari kelasnya. anak laki-laki itu sudah menunggunya di depan pagar.
Tiba-tiba ada yang berteriak.
Yaa, ayahnya memukul kakinya dengan sapu lidi jika ia tidak mendengarkan.
Setelah beranjak dewasa, Erika sadar bahwa sapu lidi itu cukup membuatnya menjadi sosok yang keras, penuntut, dan keras kepala.
Tahun 2003, masa baru dalam kehidupan Erika.
Erika meninggalkan masa Sekolah Dasar dan sekarang ia harus bertemu dengan teman baru di Sekolah Menengah Pertama.
Ayah dan Ibu Erika memilih memasukan Erika ke sekolah negeri yang dekat dengan rumahnya agar Erika tetap terkontrol dengan baik.
"Hai, Aku Gaga. Kamu Erika kan?" sapa seorang anak laki-laki yang wajahnya tak asing bagi Erika.
"Iya, aku Erika. Kamu siapa?" Jawab Erika sambil bergumam dalam hati mencoba mengingat wajah anak laki-laki itu.
Mereka berjanji akan bertemu sepulang sekolah. Sambil berpisah, Erika mencoba mengingat anak laki-laki yang menyapanya. Semakin dia memutar otaknya, semakin tak nampak wajah anak laki-laki itu.
Jam 1 siang, Erika keluar dari kelasnya. anak laki-laki itu sudah menunggunya di depan pagar.
Tiba-tiba ada yang berteriak.
"Hai, Erika!",
"Eehh, Haiii" sambil terbata-bata.
"Kamu ngga inget aku ya?", "Sebenarnya aku coba ingat-ingat kamu, tapi aku ngga ingat". Jawabnya manis tidak mau meyakiti hati anak laki-laki itu.
"Ahhhh, kamu gitu dehhh, aku Gaga. Kita ketemu dipernikahan kakak sepupumu. Aku yang dulu mengganggumu, tapi kamu sepertinya tidak suka"
"Ahhhh, kamu gitu dehhh, aku Gaga. Kita ketemu dipernikahan kakak sepupumu. Aku yang dulu mengganggumu, tapi kamu sepertinya tidak suka"
Yaaaa, pasti siapa pun orangnya, kalau diganggu pasti ngga suka.
"Sabtu malam aku main ke rumah ya", "Haahh?!! Jangan!!
Erika tidak mau ayahnya marah jika ada teman laki-laki yang datang ke rumah.
Sampai di rumah Erika bertanya kepada ayahnya. "Ayah, bolehkah hari Sabtu mala nanti teman-temanku datang?" "Untuk apa datang?!" Jawab ayah Erika dengan nada yang tak biasa.
"Emmmm, anu Yahh . . . Emmm, merekaaaaa . . . anuuuu"
"Emmmm, anu Yahh . . . Emmm, merekaaaaa . . . anuuuu"
EDP
Komentar
Posting Komentar