Postingan

Menampilkan postingan dari 2019
Apa Kata Tetangga? Seriuss ?!! Eps.03 Namanya juga tetangga. mereka bagaikan camera CCTV 24 jam bagimu! Teng . . . .Teng . . . .Teng . .  Erika mulai masuk di sekolah dasar kelas 1. Dia bersama dengan teman-temannya menikmati sekolah dasar dengan penuh semangat. Sayang, seribu sayang, Erika harus berpindah sekolah. Sekolah Dasar yang ia tempati ternyata memiliki murid tidak lebih dari 7 orang dan mereka lagi-lagi teman Erika di Taman Kanak-Kanak.  Kehidupan Erika di Sekolah Dasar tidak cukup banyak berkesan, karena kesehariannya hanyalah bermain dan mendengarkan ayahnya yang selalu mengajarinya dengan baik. Satu hal yang ia ingat adalah kaki cantiknya mengeluarkan darah ketika belajar dimulai. Yaa, ayahnya memukul kakinya dengan sapu lidi jika ia tidak mendengarkan. Setelah beranjak dewasa, Erika sadar bahwa sapu lidi itu cukup membuatnya menjadi sosok yang keras, penuntut, dan keras kepala. Tahun 2003, masa baru dalam kehidupan Erika. Erika meninggalka...

Masa Kecil yang Indah

Ini Masa Kecil?  Eps.2 Erika,  Begitulah Budhi dan Noni memberi nama kepada anak pertama mereka. Budhi dan Noni merawat mereka dengan penuh kasih sayang. Dibelikan pakaian indah, makanan bergizi, mainan yg canggih dijaman itu, dan boneka  -boneka besar yang membuat Erika hampir menghabiskan waktu balitanya di rumah. Mereka memang dari keluarga sederhana, tapi untuk urusan anak, mereka akan selalu memberikan yg terbaik.  Satu tahun berlalu, dua, tiga, empat tahun. . . Diusia keempat tahun, Budhi memutuskan memasukan Erika kesebuah Taman Kanak- kanak (TK A)  Hari pertama masuk sekolah, hanya terlihat 7 orang anak usia 5 tahun duduk di kursi-kursi kecil. Merekalah teman-teman Erika.  Erika sangat antusias memasuki kelas yang warna-warni. Kelas yang membuatnya selalu ingat untuk bernyanyi dan belajar. Erika terus bertumbuh menjadi anak yang cerdas dan ceria.  Sampai diakhir tahun di TK A,  Teman-teman Erika naik kelas ...

Untuk apa aku terlahir?

This is My Story "Mataku dengan Keajaiban" Eps.01 Desember 1991 tanggal 10, di sebuah kampung yang jauh dari kerlap-kerlip kota lahirlah seorang bayi kecil pasangan Budhi dan Noni. Semua orang menantikan kelahiran anak pertama mereka, tak terkecuali Budhi dan Noni. Seperti orang tua lainnya, mereka berharap anak yang lahir akan cantik dan sehat. Tepat jam 8 malam, bayi yang dinantikan pun lahir. Begitu cantik rupanya, merdu suara tangisnya, lembut kulitnya, lentik jari-jari manisnya. Namun, matanya tidak terbuka. 1 menit, 2 menit, . . 30 menit . . 1 jam. . Mata kecil itu tetap tidak terbuka. Nini tak kuasa menahan tangisnya, melihat anak pertamanya itu tidak memiliki mata yang sempurna. Budhi yang dengan setia mendampingi Nini pun hanya bisa mengusap air matanya.  Sontak hati mereka bepadu. Meminta kepada Tuhan untuk membuka mata kecil yang mengatup itu.  " Tuhan, Engkau tahu kami sudah menantikan buah hati kami. Kami tahu setiap hal yang Engka...